Thursday, 28 July 2016

Memimpin dan Mengatur Adalah Dua Hal Yang Berbeda

Memimpin dan Mengatur Adalah Dua Hal Yang Berbeda



Di dunia ini tidak ada manusia yang terlalu baik dan tidak ada satu manusiapun yang pantas disepelekan.
Menjadi pemimpin memang bukan suatu perkara yang mudah, menjadi pemimpin berarti bersedia mengemban tanggung jawab banyak orang. Menjadi pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan ambisi saja, karena pemimpin yang memulai dengan ambisi tidak akan menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin sudah sepantasnya menjadi panutan untuk orang lain, dalam segala hal seharusnya pemimpin mampu menunjukkan keadilan dan juga kewibawaan. Pemimpin seharusnya mampu membawa orang-orang untuk menjadi bagian yang diakui. Seorang pemimpin harus lebih menderita dari rakyatnya, seharusnya seperti itu. Karena menjadi seorang pemimpin berarti bertanggung jawab atas nasib rakyatnya. Itu berarti penderitaan rakyat adalah penderitaan pemimpin yang harus diterima.
Oleh sebab itu menjadi pemimpin seharusnya mampu menyejahterakan rakyatnya, untuk segala hal. Dengan demikian beban rakyat akan berkurang dan itu berarti beban dirinya sendiri juga berkurang. Tapi sayangnya saat ini banyak pemimpin yang tidak menjadi pemimpin yang sebenarnya, banyak pemimpin yang memulai dengan ambisi, dan ini tidak seharusnya terjadi. Pemimpin yang demikian biasanya pandai mengatur, tetapi tidak memimpin. Karena sejatinya memimpin dan mengatur adalah dua hal yang berbeda. Semua orang mungkin bisa mengatur, tetapi tidak semuanya bisa memimpin. Sekedar mengatur atau memerintahkan seseorang melakukan suatu hal, itu adalah hal yang mudah dilakukan. Tetapi kapasitas pemimpin seharusnya tidak pada titik itu.
Dibandingkan mengatur, seharusnya pemimpin lebih pandai memberikan contoh atau teladan. Seorang pemimpin secara otomatis akan menjadi contoh untuk rakyatnya. Jadi apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, pasti akan mendapatkan penghargaan dari rakyatnya, dan dengan senang hati mereka akan melakukannya. Tidak ada satu manusia pun yang dengan senang hati rela merasa digurui atau merasa diatur, itu keniscayaan, anda harus mengakuinya. Karena sejatinya manusia diciptakan untuk menjaga eksistensinya, manusia tercipta untuk menjaga harga dirinya masing-masing. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya seorang pemimpin hanya bisa mengatur rakyatnya, jika memang dia adalah seorang pemimpin, sudah seharusnya perjuangan yang dilakukannya lebih keras dari rakyatnya. Bukan hanya duduk manis melihat perjuangan rakyatnya, harusnya pemimpin mau berada di garis terdepan perjuangan.
Pemimpin bukan hanya sebatas memimpin banyak orang. Sejatinya manusia tercipta untuk menjadi pemimpin, setidaknya untuk menjadi pemimpin dari dirinya sendiri. Manusia adalah satu sistem yang harus dipimpin, manusia memiliki hati dan pemikiran sebagai bagian legislatif, kemudian anggota tubuhnya sebagai bagian eksekutif. Sudah seharusnya semua hal itu dipimpin, tentu saja oleh diri anda sendiri. Jika memimpin diri anda sendiri saja masih belum bisa, jangan berharap anda mampu memimpin orang lain, apalagi memimpin banyak orang. Bagi orang yang memahami hal ini, akan menganggap bahwa menjadi pemimpin adalah suatu hal yang sangat berat. Tapi yang tidak memahaminya, biasanya hanya dipenuhi dengan ambisi dan juga emosi untuk sebuah kekuasaan.
Selanjutnya, saat manusia menjalani hidup bersama dengan orang lain, sudah sepantasnya untuk mengingatkan satu sama lain. Tetapi tetap dalam batasan kapasitas masing-masing, anda harus ingat bahwa tidak ada satu orang pun yang ingin merasa diatur. Semua orang memiliki hak untuk bereksplorasi dan mengenal dunianya sendiri, setiap orang memiliki hak untuk menjadi pemimpin. Jadi jangan membatasinya dengan seolah-olah bahwa dia ada di bawah kekuasaan anda. Berikan dia kepercayaan untuk semua hal, ingatkan saja jika dia salah. Karena dia pasti akan mengakuinya dan menjadi lebih baik. Sejatinya manusia selama hidupnya berada dalam masa berproses, tidak ada manusia yang benar-benar pantas untuk berhenti berproses, karena sebaik-baiknya manusia pasti tidak akan luput dari kesalahan. Semkin lama manusia berproses, maka dia akan berada di titik yang semakin baik. Pada titik yang semakin baik, kemungkinan melakukan kesalahan juga lebih tinggi. Jika anda pernah mendengar sebuah pepatah klasik yang berbunyi, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang berhembus, itu adalah benar. Oleh sebab itu anda, dia dan semuanya sedang dalam masa proses yang sama, meskipun mungkin dalam tingkat yang berbeda. Jadi jangan sampai ada orang lain yang merasa terlalu di atur oleh anda, dan jangan juga biarkan orang lain terlalu mengatur kehidupan anda. Sejatinya anda memiliki hak untuk menjadi pemimpin, terutama atas diri anda sendiri.
Saat ada orang yang memimpin anda, itu bukan sebuah permasalahan, sejauh dia benar-benar memimpin sebagaimana pemimpin yang sebenarnya. Bukan hanya mengatur saja, karena memimpin dan mengatur adalah dua hal yang berbeda. Demikian juga sebaliknya, saat anda menjadi seorang pemimpin, anda harus bersikap sebagaimana pemimpin harus bersikap. Jika anda merasa itu terlalu sulit, maka sejatinya anda belum layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin adalah tanggung jawab yang tidak selamanya mudah, pemimpin tidak bisa bermula dari ambisi dan emosi. Memimpin adalah soal hati dan sikap, jika ada orang lain yang lebih pantas untuk memimpin, maka mundurlah dengan jiwa pemimpin.
Pemimpin tidak akan membiarkan rakyatnya menderita, jika dengan kemudurannya dan digantikan dengan orang lain akan membuat rakyatnya terbebas dari penderitaan, maka itu harus dilakukan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, pemimpin bukan soal ambisi dan kekuasaan saja. Jika hanya itu yang menjadi landasan pemimpin, maka selamanya tidak akan pernah ada pemimpin yang sebenarnya. Meskipun memimpin adalah hal yang tidak mudah, seorang pemimpin harus mampu benar-benar memimpin, bukan mengatur.


No comments:

Post a Comment