Memimpin dan Mengatur Adalah Dua Hal Yang Berbeda
Di dunia ini tidak ada manusia yang terlalu baik dan tidak ada satu
manusiapun yang pantas disepelekan.
Menjadi pemimpin memang bukan suatu perkara yang mudah, menjadi pemimpin
berarti bersedia mengemban tanggung jawab banyak orang. Menjadi pemimpin tidak
bisa hanya mengandalkan ambisi saja, karena pemimpin yang memulai dengan ambisi
tidak akan menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin sudah sepantasnya menjadi
panutan untuk orang lain, dalam segala hal seharusnya pemimpin mampu menunjukkan
keadilan dan juga kewibawaan. Pemimpin seharusnya mampu membawa orang-orang
untuk menjadi bagian yang diakui. Seorang pemimpin harus lebih menderita dari
rakyatnya, seharusnya seperti itu. Karena menjadi seorang pemimpin berarti
bertanggung jawab atas nasib rakyatnya. Itu berarti penderitaan rakyat adalah
penderitaan pemimpin yang harus diterima.
Oleh sebab itu menjadi pemimpin seharusnya mampu menyejahterakan
rakyatnya, untuk segala hal. Dengan demikian beban rakyat akan berkurang dan
itu berarti beban dirinya sendiri juga berkurang. Tapi sayangnya saat ini
banyak pemimpin yang tidak menjadi pemimpin yang sebenarnya, banyak pemimpin
yang memulai dengan ambisi, dan ini tidak seharusnya terjadi. Pemimpin yang
demikian biasanya pandai mengatur, tetapi tidak memimpin. Karena sejatinya
memimpin dan mengatur adalah dua hal yang berbeda. Semua orang mungkin bisa
mengatur, tetapi tidak semuanya bisa memimpin. Sekedar mengatur atau
memerintahkan seseorang melakukan suatu hal, itu adalah hal yang mudah
dilakukan. Tetapi kapasitas pemimpin seharusnya tidak pada titik itu.
Dibandingkan mengatur, seharusnya pemimpin lebih pandai memberikan
contoh atau teladan. Seorang pemimpin secara otomatis akan menjadi contoh untuk
rakyatnya. Jadi apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, pasti akan
mendapatkan penghargaan dari rakyatnya, dan dengan senang hati mereka akan
melakukannya. Tidak ada satu manusia pun yang dengan senang hati rela merasa
digurui atau merasa diatur, itu keniscayaan, anda harus mengakuinya. Karena
sejatinya manusia diciptakan untuk menjaga eksistensinya, manusia tercipta
untuk menjaga harga dirinya masing-masing. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya
seorang pemimpin hanya bisa mengatur rakyatnya, jika memang dia adalah seorang
pemimpin, sudah seharusnya perjuangan yang dilakukannya lebih keras dari
rakyatnya. Bukan hanya duduk manis melihat perjuangan rakyatnya, harusnya
pemimpin mau berada di garis terdepan perjuangan.
Pemimpin bukan hanya sebatas memimpin banyak orang. Sejatinya manusia
tercipta untuk menjadi pemimpin, setidaknya untuk menjadi pemimpin dari dirinya
sendiri. Manusia adalah satu sistem yang harus dipimpin, manusia memiliki hati
dan pemikiran sebagai bagian legislatif, kemudian anggota tubuhnya sebagai
bagian eksekutif. Sudah seharusnya semua hal itu dipimpin, tentu saja oleh diri
anda sendiri. Jika memimpin diri anda sendiri saja masih belum bisa, jangan
berharap anda mampu memimpin orang lain, apalagi memimpin banyak orang. Bagi
orang yang memahami hal ini, akan menganggap bahwa menjadi pemimpin adalah
suatu hal yang sangat berat. Tapi yang tidak memahaminya, biasanya hanya
dipenuhi dengan ambisi dan juga emosi untuk sebuah kekuasaan.
Selanjutnya, saat manusia menjalani hidup bersama dengan orang lain,
sudah sepantasnya untuk mengingatkan satu sama lain. Tetapi tetap dalam batasan
kapasitas masing-masing, anda harus ingat bahwa tidak ada satu orang pun yang
ingin merasa diatur. Semua orang memiliki hak untuk bereksplorasi dan mengenal
dunianya sendiri, setiap orang memiliki hak untuk menjadi pemimpin. Jadi jangan
membatasinya dengan seolah-olah bahwa dia ada di bawah kekuasaan anda. Berikan
dia kepercayaan untuk semua hal, ingatkan saja jika dia salah. Karena dia pasti
akan mengakuinya dan menjadi lebih baik. Sejatinya manusia selama hidupnya
berada dalam masa berproses, tidak ada manusia yang benar-benar pantas untuk
berhenti berproses, karena sebaik-baiknya manusia pasti tidak akan luput dari
kesalahan. Semkin lama manusia berproses, maka dia akan berada di titik yang
semakin baik. Pada titik yang semakin baik, kemungkinan melakukan kesalahan
juga lebih tinggi. Jika anda pernah mendengar sebuah pepatah klasik yang
berbunyi, semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang berhembus, itu
adalah benar. Oleh sebab itu anda, dia dan semuanya sedang dalam masa proses
yang sama, meskipun mungkin dalam tingkat yang berbeda. Jadi jangan sampai ada
orang lain yang merasa terlalu di atur oleh anda, dan jangan juga biarkan orang
lain terlalu mengatur kehidupan anda. Sejatinya anda memiliki hak untuk menjadi
pemimpin, terutama atas diri anda sendiri.
Saat ada orang yang memimpin anda, itu bukan sebuah permasalahan, sejauh
dia benar-benar memimpin sebagaimana pemimpin yang sebenarnya. Bukan hanya
mengatur saja, karena memimpin dan mengatur adalah dua hal yang berbeda.
Demikian juga sebaliknya, saat anda menjadi seorang pemimpin, anda harus
bersikap sebagaimana pemimpin harus bersikap. Jika anda merasa itu terlalu
sulit, maka sejatinya anda belum layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin adalah
tanggung jawab yang tidak selamanya mudah, pemimpin tidak bisa bermula dari
ambisi dan emosi. Memimpin adalah soal hati dan sikap, jika ada orang lain yang
lebih pantas untuk memimpin, maka mundurlah dengan jiwa pemimpin.
Pemimpin tidak akan membiarkan rakyatnya menderita, jika dengan
kemudurannya dan digantikan dengan orang lain akan membuat rakyatnya terbebas
dari penderitaan, maka itu harus dilakukan. Seperti yang sudah disebutkan di
atas, pemimpin bukan soal ambisi dan kekuasaan saja. Jika hanya itu yang
menjadi landasan pemimpin, maka selamanya tidak akan pernah ada pemimpin yang
sebenarnya. Meskipun memimpin adalah hal yang tidak mudah, seorang pemimpin
harus mampu benar-benar memimpin, bukan mengatur.






